Friday, January 3, 2020

Review Buku Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat

Jangan Berusaha

Mark Manson, blogger yang punya berjuta-juta pembaca mengawali bukunya dengan kisah hidup Charles Bukowsky, seorang penulis novel dan ratusan puisi yang popularitasnya melampaui harapan setiap orang terutama ekspetasinya sendiri.

Disebutkan, Bukowski dengan kemampuan sederhananya untuk jujur, tidak pernah mencoba untuk menjadi selain dirinya sendiri dengan mengakui hal-hal buruk sekalipun dan membagikannya tanpa segan dan ragu. Karyanya yang pada awalnya dicap menjijikkan, sangat hancur, tidak bermoral, ternyata berhasil jadi pemenang karena Bukowsky merasa "nyaman" dengan cerminan dirinya yang dianggap sebuah kegagalan dan merasa masa bodoh dengan kesuksesan. Dengan berslogan "Jangan Berusaha", Bukowsky tidak mengubah diri jadi seperti yang diinginkan orang melainkan jadi dirinya sendiri hingga menang.

Manson menyikapi kisah ini dengan sebuah pernyataan bahwa kunci kehidupan yang baik memang bukan tentang memedulikan lebih banyak hal tapi tentang memedulikan hal sederhana, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting saja.

Mengapa?

Karena ketika kita kurang memedulikan sesuatu kita justru mengerjakan hal itu dengan baik. Dengan kata lain bersikap bodo amat sesungguhnya akan menghasilkan hal yang besar yang membuat kita memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.

Kemudian, bodo amat ini lebih jauh oleh Manson dijabarkan dalam 3 buah seni:

1. Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh, masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda dan menikmatinya hingga sampai ke tujuan kita.

2. Untuk bisa mengatakan bodo amat pada kesulitan, pertama kita harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan itu. Jadi pada hal sepele katakan bye-bye!

3. Entah kita sadari atau tidak, kita biasanya memilih suatu hal untuk diperhatikan dan ini akan terus membaik mengikuti tingkat kedewasaan.
Kebahagiaan Itu Masalah

Manson menyebutkan bahwa kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Yang mana kadangkala masalah ini sederhana saja dan konsepnya sama: selesaikan masalah lalu berbahagialah!

Tapi, ternyata beberapa dari kita menyikapi tak sesederhana ini. Karena kita biasanya:

- Menyangkalnya: mengingkari kenyataan sehingga menuntun ke kerapuhan dan pengekangan emosional

- Mengedepankan mentalitas sebagai korban: memilih meyakini bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini padahal bisa jadi kita mampu menghadapi, sehingga menggiring kita pada ketidakberdayaan dan keputusasaan.

Kebahagiaan yang dikatakan Manson yang tumbuh dari masalah inilah yang membutuhkan perjuangan yang akan menentukan kesuksesan di masa depan.

Kita Tidak Istimewa

Manson kemudian menyadarkan pembacanya, bahwa sejatinya tidak ada dari kita yang istimewa. Karena pada kenyataannya menanamkan keyakinan pada orang bahwa mereka istimewa tidak lantas menjadikan satu populasi penuh dengan orang macam Bill Gates atau Martin Luther King, misalnya. Tapi justru bisa menciptakan tampilan kepercayaan diri di level delusional.

Dan meyakinkan diri sebagai makhluk spesial adalah strategi yang gagal. Lantaran hanya akan membuat kita tinggi hati dan bukan merasa happy.

Pasalnya, pengukuran yang benar tentang penghargaan diri itu bukanlah jika seseorang merasakan pengalaman positifnya tapi justru pengalaman negatifnya. Dan kemalangan serta kegagalan sungguh berguna dan bahkan diperlukan untuk membangun seseorang menjadi orang dewasa yang tangguh dan sukses nantinya.

Jadi, meski terdengar membosankan dan biasa saja, menurut Manson mengapresiasi pengalaman sederhana dalam hidup dan penerimaan terhadap eksistensi diri yang sedang-sedang saja, akan membebaskan kita untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin kita selesaikan tanpa penilaian atau ekspetasi yang berlebihan.
Nilai Penderitaan

Manson menjabarkan tentang self improvement yang sesungguhnya adalah dengan memprioritaskan dan memilih nilai-nilai yang lebih baik untuk dipedulikan.

Lantaran, ketika kita peduli pada hal yang lebih baik maka kita akan mendapatkan masalah yang lebih baik sehingga hidup yang kita jalani akan jadi lebih baik lagi.
Kita Selalu Memilih

Dalam buku setebal 243 halaman dan bersampul warna orange ini, Manson juga mengingatkan bahwa sebagai bagian dari hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis dan bebas maka kita semua mesti berhadapan dengan berbagai pandangan termasuk orang yang berseberangan dengan kita.

Kita kemudian disarankan untuk memilih pertempuran dengan hati-hati sambil terus mencoba sedikit berempati terhadap mereka yang kita sebut "lawan". Juga, sebaiknya mendahulukan nilai kejujuran dan keterbukaan serta menerima keraguan yang muncul atas nilai merasa paling benar.


Kamu Keliru (...dan Saya pun Begitu)

Manson menggarisbawahi lagi hukum kebalikan, semakin kita menerima ketidakpastian dan ketidaktahuan akan sesuatu, kita akan merasa nyaman karena tahu persis yang kita tahu. Manusia yang yakin dirinya mengetahui semua tidak akan mempelajari sesuatu pun.

Demikian juga keterbukaan untuk mengakui kesalahan harus ada terlebih dahulu jika kita menginginkan perubahan atau pertumbuhan. Sehingga sebelum kita mencermati nila-nilai dan prioritas dan kemudian mengubahnya jadi lebih baik, pertama kita harus meragukannya lalu mengakuinya.

Dan sebaiknya kita mendefinisikan ulang ukuran kita dengan cara yang biasa saja, jangan jadi unik juga istimewa. Pilih identitas yang biasa saja, misalnya: seorang ibu, suami, rekan kerja, teman atau penikmat makanan.
Kegagalan adalah Jalan untuk Maju

Prinsip "lakukan sesuatu" menjadikan kegagalan tidaklah penting lagi. Ketika standar kesuksesan hanya "melakukan sesuatu" kita akan mendorong diri untuk lebih maju lagi. Kita merasa bebas untuk gagal dan kegagalan inilah yang menggerakkan kita ke depan.

Manson menelaah hal ini dan memberikan kesimpulan bahwa kita adalah sumber inspirasi bagi diri kita sendiri. Kita bisa melakukan apa saja untuk menginspirasi motivasi agar tetap ada bersemayam di diri.
Pentingnya Berkata Tidak

Manson mengedepankan perlunya berkata tidak untuk menolak sesuatu agar kita tidak kehilangan alasan untuk bertahan.

Karena menghindari penolakan akan memberikan kenikmatan sesaat yang membuat kita tanpa kemudi dan tanpa arah jangka panjang.

Jadi untuk mengapresiasi sesuatu kita harus membatasi diri sendiri.
...dan Kemudian Kita Tiada

Tanpa kita sadari kepongahan seringkali melucuti perasaan ke-Tuhan-an kita dan menarik semua perhatian ke dalamnya, membuat kita merasa seakan-akan kitalah pusat dari semua masalah yang ada di alam semesta. Bahwa kita mengalami ketidakadilan dan bahwa kita berhak mendapatkan yang paling besar daripada orang lain hingga kita..... tiada lagi di dunia. Jangan Berusaha


Mark Manson, blogger yang punya berjuta-juta pembaca mengawali bukunya dengan kisah hidup Charles Bukowsky, seorang penulis novel dan ratusan puisi yang popularitasnya melampaui harapan setiap orang terutama ekspetasinya sendiri.

Disebutkan, Bukowski dengan kemampuan sederhananya untuk jujur, tidak pernah mencoba untuk menjadi selain dirinya sendiri dengan mengakui hal-hal buruk sekalipun dan membagikannya tanpa segan dan ragu. Karyanya yang pada awalnya dicap menjijikkan, sangat hancur, tidak bermoral, ternyata berhasil jadi pemenang karena Bukowsky merasa "nyaman" dengan cerminan dirinya yang dianggap sebuah kegagalan dan merasa masa bodoh dengan kesuksesan. Dengan berslogan "Jangan Berusaha", Bukowsky tidak mengubah diri jadi seperti yang diinginkan orang melainkan jadi dirinya sendiri hingga menang.

Manson menyikapi kisah ini dengan sebuah pernyataan bahwa kunci kehidupan yang baik memang bukan tentang memedulikan lebih banyak hal tapi tentang memedulikan hal sederhana, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting saja.

Mengapa?

Karena ketika kita kurang memedulikan sesuatu kita justru mengerjakan hal itu dengan baik. Dengan kata lain bersikap bodo amat sesungguhnya akan menghasilkan hal yang besar yang membuat kita memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.

Kemudian, bodo amat ini lebih jauh oleh Manson dijabarkan dalam 3 buah seni:

1. Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh, masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda dan menikmatinya hingga sampai ke tujuan kita.

2. Untuk bisa mengatakan bodo amat pada kesulitan, pertama kita harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan itu. Jadi pada hal sepele katakan bye-bye!

3. Entah kita sadari atau tidak, kita biasanya memilih suatu hal untuk diperhatikan dan ini akan terus membaik mengikuti tingkat kedewasaan.

Kebahagiaan Itu Masalah


Manson menyebutkan bahwa kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Yang mana kadangkala masalah ini sederhana saja dan konsepnya sama: selesaikan masalah lalu berbahagialah!

Tapi, ternyata beberapa dari kita menyikapi tak sesederhana ini. Karena kita biasanya:

- Menyangkalnya: mengingkari kenyataan sehingga menuntun ke kerapuhan dan pengekangan emosional

- Mengedepankan mentalitas sebagai korban: memilih meyakini bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini padahal bisa jadi kita mampu menghadapi, sehingga menggiring kita pada ketidakberdayaan dan keputusasaan.

Kebahagiaan yang dikatakan Manson yang tumbuh dari masalah inilah yang membutuhkan perjuangan yang akan menentukan kesuksesan di masa depan.




Kita Tidak Istimewa

Manson kemudian menyadarkan pembacanya, bahwa sejatinya tidak ada dari kita yang istimewa. Karena pada kenyataannya menanamkan keyakinan pada orang bahwa mereka istimewa tidak lantas menjadikan satu populasi penuh dengan orang macam Bill Gates atau Martin Luther King, misalnya. Tapi justru bisa menciptakan tampilan kepercayaan diri di level delusional.

Dan meyakinkan diri sebagai makhluk spesial adalah strategi yang gagal. Lantaran hanya akan membuat kita tinggi hati dan bukan merasa happy.

Pasalnya, pengukuran yang benar tentang penghargaan diri itu bukanlah jika seseorang merasakan pengalaman positifnya tapi justru pengalaman negatifnya. Dan kemalangan serta kegagalan sungguh berguna dan bahkan diperlukan untuk membangun seseorang menjadi orang dewasa yang tangguh dan sukses nantinya.

Jadi, meski terdengar membosankan dan biasa saja, menurut Manson mengapresiasi pengalaman sederhana dalam hidup dan penerimaan terhadap eksistensi diri yang sedang-sedang saja, akan membebaskan kita untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin kita selesaikan tanpa penilaian atau ekspetasi yang berlebihan.

Nilai Penderitaan

Manson menjabarkan tentang self improvement yang sesungguhnya adalah dengan memprioritaskan dan memilih nilai-nilai yang lebih baik untuk dipedulikan.

Lantaran, ketika kita peduli pada hal yang lebih baik maka kita akan mendapatkan masalah yang lebih baik sehingga hidup yang kita jalani akan jadi lebih baik lagi.

Kita Selalu Memilih

Dalam buku setebal 243 halaman dan bersampul warna orange ini, Manson juga mengingatkan bahwa sebagai bagian dari hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis dan bebas maka kita semua mesti berhadapan dengan berbagai pandangan termasuk orang yang berseberangan dengan kita.

Kita kemudian disarankan untuk memilih pertempuran dengan hati-hati sambil terus mencoba sedikit berempati terhadap mereka yang kita sebut "lawan". Juga, sebaiknya mendahulukan nilai kejujuran dan keterbukaan serta menerima keraguan yang muncul atas nilai merasa paling benar.





Kamu Keliru (...dan Saya pun Begitu)

Manson menggarisbawahi lagi hukum kebalikan, semakin kita menerima ketidakpastian dan ketidaktahuan akan sesuatu, kita akan merasa nyaman karena tahu persis yang kita tahu. Manusia yang yakin dirinya mengetahui semua tidak akan mempelajari sesuatu pun.

Demikian juga keterbukaan untuk mengakui kesalahan harus ada terlebih dahulu jika kita menginginkan perubahan atau pertumbuhan. Sehingga sebelum kita mencermati nila-nilai dan prioritas dan kemudian mengubahnya jadi lebih baik, pertama kita harus meragukannya lalu mengakuinya.

Dan sebaiknya kita mendefinisikan ulang ukuran kita dengan cara yang biasa saja, jangan jadi unik juga istimewa. Pilih identitas yang biasa saja, misalnya: seorang ibu, suami, rekan kerja, teman atau penikmat makanan.


Kegagalan adalah Jalan untuk Maju

Prinsip "lakukan sesuatu" menjadikan kegagalan tidaklah penting lagi. Ketika standar kesuksesan hanya "melakukan sesuatu" kita akan mendorong diri untuk lebih maju lagi. Kita merasa bebas untuk gagal dan kegagalan inilah yang menggerakkan kita ke depan.

Manson menelaah hal ini dan memberikan kesimpulan bahwa kita adalah sumber inspirasi bagi diri kita sendiri. Kita bisa melakukan apa saja untuk menginspirasi motivasi agar tetap ada bersemayam di diri.

Pentingnya Berkata Tidak

Manson mengedepankan perlunya berkata tidak untuk menolak sesuatu agar kita tidak kehilangan alasan untuk bertahan.

Karena menghindari penolakan akan memberikan kenikmatan sesaat yang membuat kita tanpa kemudi dan tanpa arah jangka panjang.

Jadi untuk mengapresiasi sesuatu kita harus membatasi diri sendiri.

...dan Kemudian Kita Tiada

Tanpa kita sadari kepongahan seringkali melucuti perasaan ke-Tuhan-an kita dan menarik semua perhatian ke dalamnya, membuat kita merasa seakan-akan kitalah pusat dari semua masalah yang ada di alam semesta. Bahwa kita mengalami ketidakadilan dan bahwa kita berhak mendapatkan yang paling besar daripada orang lain hingga kita..... tiada lagi di dunia.

Buku Penjumpa


Sore itu, angin seakan menyampaikan salam perpisahannya padaku. Langit seakan menangis menitikan rintikan air yang membasahi pijakanku. Tempat yang biasa aku diami untuk mencari bahkan mendapatkan inspirasi. Diatas bukit yang tak terlalu tinggi membuat saung ini terlihat jauh lebih indah. Saat aku bingung dan kehilangan arah, tempat ini seakan membuatku tak memiliki pilihan lain. Sungguh berat hati ini untuk pergi dan meninggalkannya.
Tiba-tiba aku melihat bayang yang seperti ingin menghampiriku. Sosok wanita dengan langkah kaki yang sangat ku kenal. Dia sudah sangat tahu kemana dia akan pergi untuk mencari ku saat aku tak di rumah.
“Zahra, kita harus berkemas untuk meninggalkan desa ini. Ayo kita pulang?”
Aku hanya dapat menganggukan kepalaku tanpa sepatah katapun. Dengan berat hati, aku pergu meninggalkan tempat yang sangat istimewa bagiku.
          Ya, dia adalah ibuku yang sangat sibuk bekerja tanpa memerhatikan diriku. Karena pekerjaannyalah kita harus pindah kekota. Ibuku tidak hentinya mencari uang. Dengan rumah yang sedemikian mewah, apalah arti tanpa kasih sayang di dalamnya. Dia pergi sebelum surya meraba bumi, dan pulang setelah senja lelap tenggelam. Karena pekerjaanya pula aku harus kehilangan sosok ayah yang sangat ku sayangi. Mereka jauh berbeda. Ayah memilih berpisah karena ibu tidak mengutamakannya dan melayaninya dengan baik. Yang dia utamakan hanyalah uang yang dapat membawa kesenangan baginya. Sesungguhnya ayah sanyat mencintai ibuku dulu.
          Sesampainya aku di kota, suasananya sangat jauh berbeda. Suara merdu kicauan burung kini menjadi suara deruan mesin pemakan isi perut bumi, sejuknya udara menjadi kumparan polusi yang merusak tubuh. Setelah aku masuk kamarku, langsung aku baringkan tubuhku di kamar yang baru ku kenal. Seharian penuh ku habiskan waktuku disana. Aku hanya bisa mengingat-ingat kenanganku di desa. Yang entah mungkin atau tidak ku dapetkan di sini.
          Pagi ini surya naik dengan malu malu. Aku siap berangkat kesekolah yang telah di daftarkan ibuku. Seperti biasa aku hanya sarapan sendiri di rumah. Walau sarapan selalu siap di pagi hari, aku jarang melihat sosok ibu yang membuatkanku sarapan.
“tiiiiiintiiiiiin….”
Tiba-tiba suara motor terdengar di depan rumahku. Aku segera menghabiskan makananku dan bergegas berangkat sekolah.
“apa benar, dengan Zahra?” dia berkata dengan senyumnya.
“ya benar, tunggu sebentar ya” sambil berjalan ke pintu untuk menguncinya.
          Bel sekolahpun berbunyi. Seperti anak baru pada umumnya, aku harus berdiri di depan dengan puluhan mata yang menatapku. Dengan sedikit gugup aku memperkenalkan diriku. Tidak seperti bayangku yang buruk tentang sekolah baru. Aku sangat di terima disana. Akupun mengikuti kegiatan belajar seperti siswa pada umumnya. Saat istirahat sekolah pertamaku, tidak sedikit anak yang mendekat dan berkenalan denganku. Ya, paling tidak ini bisa mengobati rasa sepiku selama ini. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera pulang untuk beristirahat. Namun, aku berbelok ke toilet karena tak sangup lagi menahan ingin buang air. Barulah setelah itu aku pulang ke rumah.
          Sudah tak heran rumah ku sepi. Setiap malam aku membeli makanan di luar untuk mengisi perutku. Mengerjakan tugas, merapikan kamar dan rumah, makan, menyiapkan pakaian, aadalah kegiatan sehari-hariku. Terkadang aku terbangun dimalam hari karena suara ibu yang baru pulang , tapi aku tidak begitu bahagia ketika dia pulang. Mungkin karena aku terlalu jauhh padanya.
“kriiiiiii…..ng”
Alarem tua yang ku bawa dari desa membangunkanku. Alarem itu adalah pemberian ayahku saat usiaku 7 tahun. Sampai saat ini aku merawatnya dengan sangat baik. Seperti pagi-pagi sebelumnya, sarapan telah tertata rapih di meja. Dan lagi-lagi aku tidak melihat wanita yang telah membuatkannya. Setelah semua habis ku lahap, namun aku tak mendengar suara orang yang menjemputku. Saat ku coba melihatnya di depan rumah, rupanya dia telah siap menunggu.akupun segera menutup dan mengunci pintu rumah.
          Lagi lagi bel masuk berbunyi. Kali ini aku agak telat, maka dari itu aku berlari ke kelas agar aku sampai sebelum guru masuk kedalam kelas. Namun langkahku berhenti saat ada yang menyebut namaku. Seorang laki-laki yang tengah menyodorkan sebuah buku kearah ku.
“ini, aku menemukannya di lorong kamarmandi” kata laki-laki itu.
Rupanya itu buku miliku yang terjatuh sebelum pulang ke rumah saat itu. Tanpa mengucapkan terimakasih, aku mengambilnya dan lekas berlari ke kelas. Ahh, senyumnya begitu manis dengan bibir tipisnya, matanya pun indah bagai rembulan. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.
          Istirahat ini, aku coba mencarinya. Hampir seluruh daerah sekolah aku datangi, namun aku tak kunjung menjumpainya. Ternyata dia ada di kantin, sedang memesan minuman.
“hey, emm… terimakasih atas bukunya, aku mencarinya kemana-mana. Dan maaf aku langsung meninggalkanmu.” Kataku.
Dia hanya mengangguk sembari menyodarkan salah satu minuman nya yang dia pegang. Dia duduk sekan menyuruhku duduk tanpa berkata apapun.
 “ngomong-ngomong, siapa namamu?” aku langsung bertanya memotong kekosongan.
“Rian” singkat dia menjawabnya.
Kamipun saling mengobrol bersama sembari menghabiskan minumannya. Hingga taksadar bel masuk telah berbunyi.
          Entah kenapa ojek yang ku pesan begitu lama. Sampai saatnya tiba sebuah motor dan berhenti didepanku. Rupanya rian yang ada di atas motor itu.
“Zahra belum dijemput?” setelah melepas helemnya.
“belum, padahal sudah lama nunggu.” Sambil menengok jam di tanganku.
“aku bisa mengantarmu pulang, aku sedang tidak sibuk kok.”
Tanpa basa basi aku ikut dengannya dan mengantarku pulang.  Sesampainya dirumah, aku tak henti membayangkannya. Orang yang telah menyelamatkan diriku. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.
          Hari ketigaku menunggu. Belum ku menyentuh sarapanku, lagi-lagi aku tak melihatnya di rumah. Kemarin Rian bilang dia akan menjemputku. Tapi kenapa dia belum tiba.
“tiin” kelakson motor berbunyi di depan rumahku.
Rupanya ojek yang biasa di pesan ibu untuk ku. Aku kira Rian yang akan mengantarku kesekolah hari ini. Setibanya di sana, Entah kenapa koridor sekolah sepi tidak seperti biasanya. Mungkin aku terlalu pagi untuk berangkat. Aku melihat Rian dan seorang laki-laki yang mungkin adalah ayahnya.Tapi kenapa mereka ada di ruang kepala sekolah. Namun aku seperti kenal dengan orang yang duduk di samping Rian. Tiba-tiba kepala sekolah membuka pintu dan memanggilku.
                Setelah lama bercerita, ternyata Rian adalah kakak ku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Aku senang dapat bertemu ayah lagi, disisi lain aku begitu kecewa ketika tau orang yang aku sayangi adalah saudaraku. Dan tak lama ayah dan ibu kembali ke satu rumah. Ibu sekarang berubah dan lebih perduli kepada ayah. Dan kamipun menjadi keluarga yang bahagia.

Indahnya Sebuah Persahabatan

Betapa menyenangkan menjadi orang kaya. Hidup serba berkecukupan. Apapun yang diinginkan akan terpenuhi. Karena semua sudah tersedia. Seperti halnya Bagus. Seorang anak orang kaya yang menjadi populer karena kekayaannya, berangkat dan pulang diantar oleh supir abadi dan mobil yang mewah.
   meskipun bergemilang harta, Bagus tidaklah menyombongkan diri. Tidak kalah dengan Bagus ,orang tua Bagus juga merupakan orang yang baik dan ramah, tidak berpatokan pada hartanya dalam bergaul dan tidak membeda-bedakan orang di sekitarnya. Teman-teman Bagus sangat suka dan betah berlama-lama dirumah Bagus karena mereka selalu disambut ramah dan diperlakukan seperti keluarga sendiri oleh keluarga Bagus. 
                     Bagus memiliki seorang sahabat yang sangat setia menemaninya dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Tidak jauh dari rumahnya Shadam sahabat Bagus tinggal di kampung dekat rumah Bagus, hanya di pisahkan oleh RT saja. Tetapi sudah hampir dua minggu Shadam tidak bermain lagi di rumah nya Bagus.
“Hmm Shadam kemana ya mah, biasanya dia setiap hampir setiap hari mengunjungi rumah kita” kata Bagus
“Mungkin Shadam sedang sakit!”Kata mamah
“Iya juga mah, aku akan mengunjungi Shadam nanti sore” Jawab Bagus dengan penuh semangat. 
                     Sudah hampir lima kali Bagus mengetuk rumahnya si Shadam. Karena menunggu lama ia bertanya kepada tetangganya Shadam. Ternyata sudah dua minggu.Shadam ikut orang tuanya pergi ke desa. Karena ayahnya habis kena PHK. Akhirnya keluarga Shadam memutuskan untuk pergi kembali ke desa dan menjadi petani.
“Kasihan sekali keluarga Shadam” Kata Bagus dalam hati
dirumah nya Bagus nampak melamun sambil memikirkan nasib sahabat setianya tersebut.
“Ada apaan gus? Kok tampak lemas sekali” Kata ayah
“Si Shadam pak”. Jawab Bagus
“memangnya ada apa dengan Shadam sampai-sampai membuat kamu lesu begitu?”tanya ayah.
“Sekarang Shadam sudah pindah rumah pak. Kata tetangga nya di PHK dan keluarganya memilih untuk menjadi petani”.
“Kalau ayah sih tidak terlalu percaya coba tanya deh sama pak RT atau ke tetangga lain”. Kata ayah. “Lalu apa rencana mu?”Lanjut ayah
“Aku berharap ayah bisa menolong Shadam” jawab Bagus
“Maksudmu?” ayah bingung
“Aku pengen Shadam bisa disini lagi” Bagus memohon kepada ayah.
“Baik kalau itu bisa membuat kamu senang ,tapi kamu harus bisa mencari alamat si Shadam”.Kata ayah
                     Berkat bantuan pemilik kontrakan bekas rumah Shadam akhirnya tiga hari kemudian Bagus berhasil mendapatkan alamat rumah Shadam yang ada di desa.


Ia merasa sangat senang. Kemudian ayah bersama dengan bagus pergi kerumah Shadam yang berada di desa. Lokasi rumahnya masih masuk kedalam desa lagi. Bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar dua kilometer. Sesampainya dirumah kami disambut orang tua Shadam dan Shadam sendiri. Betapa gembiranya hati Shadam ketika bertemu dengan sabahat dekatnya. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rindu mereka berdua. Pada awalnya Shadam sangat kaget dengan kedatangan Bagus secara tiba tiba.
“Maaf ya gus, aku tak sempat memberi kabar ke kamu kalo aku ingin pindah”. Kata Shadam
“ah gak papa, yang penting aku sudah ketemu kamu dan merasa senang”. Jawab Bagus
Setelah berbincang cukup lama, ayah menjelaskan tujuannya pergi mengunjungi rumah si Shadam yaitu untuk mengajak Shadam pergi ke Surabaya. Ternyata orang tua Shadam tidak keberatan, mereka menyerahkan segala keputusan kepada Shadam sendiri.
“Begini dam kedatangan kami kemari, untuk mengajak kamu ikut kami ke surabaya. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana dam apakah kamu ingin menerima tawaran kami?” Tanya ayah
“soal sekolahmu” lanjut ayah “kamu tidak usah khawatir. Seluruh biaya pendidikanmu biar keluarga kami yang menanggung”.kata ayah
“Baiklah kalau memang bapak dan Bagus menghendaki saya ikut, saya mau pak. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan bapak yang mau membantu saya dan keluarga saya” jawab Shadam
          Kemudian Bagus memeluk shadam. Ia menangis terharu karena kebahagiaan. Kini Shadam tinggal di rumah Bagus. Sementara orang tuanya tetap tinggal di desa. Selain untik mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Shadam yang sudah semakin tua.

Siapa Yang Tinggal Di Langit

Ederson melangkahi sekolah, dia berjalan menunduk penuh rasa kecewa. Kakaknya, Bravo, bingung melihat Ederson seperti itu kemudian iya bertanya kepada Ederson, “ kenapa, Son?” Mendengar suara kakaknya, mata Ederson langsung memandang kakaknya. Dia pun berkata “Aku bosan, Kak....” Bravo semakin bingung.
“Bosan? Bosan kenapa? Apa kamu ngga suka lagi ergi ke sekolah? Atau, guru-guru di sekolah ngga ramah ya? Nanti bilang mama aja...” Bravo memberondong pertanyaan.
“Bukan kak Bravo...” Ederson menjawab sambil memandang kelereng yang ada di depannya. “Terus apa dong, Son?” Bravo semakin bingung mendengar jawaban Ederson”. “Aku bosan, kak... Bosan tinggal di bumi jawab Ederson sambil mengangkat wajahnya yang di hiasi dengan kekecewaan mendalam.
“Iiih... kamu stress ya? Kita kan engga bisa tinggal di laut tanpa oksigen?” Bravo memperlamban langkah mengimbangi langkah Ederson.”Bukan di laut ko, kak...” Ederson menatap langit sambil berfikir. “Terus dimana? Di dalam tanah? Di planet Mars? Atau di dasar laut? Kalau ngga apa kita tinggal di langit aja?” Bravo yang tidak mengerti maksud Ederson terus memberondong pertanyaan kepada adiknya tersebut.
“Iya, kak! Benar! Kita kan bisa tinggal di langit!” Wajah Edrson yang semula terlihat kecewa berubah menjadi ceria lebih dari biasa. “Hah?” Bravo hanya melongo. Dia masih sibuk memikirkan maksud Ederson yang memang susah untuk ditebak.”Iya, kak... Makasih ya, Kak, sudah ngasih ide secermelang itu buat aku.” 
“Kak, siapa aja sih yang tinggal di langit?” tanya Ederson menarik seluruh perhatian Bravo. “Emm, yang tinggal di langit? Kamu serius?” Bravo terdengar kaget lalu mencurahkan seluruh perhatiannya sambil menatap mata Ederson dalam-dalam, di mata Ederson, bravo menemukan keseriusan. “Ya iyalah, kak, aku serius. Buruan, kak, jawab siapa yang tinggal di langit?” balas Ederson ringan.
“Menurut kak Bravo sih, awan. Karena awan yang selalu ada di malam dan siang hari. Kedua, Bintang, karena di langit kita bisa melihat rasi bintang. Ketiga, Matahari dan Bulan, karena mereka yang menerangi malam dan siang kita. Terakhir, seluruh partikel-partikel yang ada di langit,” jawab Bravo panjang lebar. Ederson mendengarkan dengan seksama dan menghapal kata-kata Bravo, sang kakak yang sangat bijaksana di mata Ederson.
“Emangnya, kenapa sih kamu engga senang tingal di Bumi?” Bravo mulai mencoba mengorek ketertarikan adiknya terhadap langit. Ederson tersenyum kecut,”Sebenarnya aku lagi sebal... soalnya Bumi sekarang lagi kena global warming. Tapi teman-teman aku engga ada yang peduli. Orang malah berlomba-lomba pasang AC, karena setiap siang terasa semakin panas.”Jawab Ederson panjang lebar. Sekali lagi dia menunduk, rasa kecewa itu kembali terlihat.
“Yaampun, Ederson... kakak engga nyangka, kamu peduli banget sama alam. Padahal kamu keliatan cuek, hehe,” sahut Bravo sambil mengacak-ngacak rambut Ederson. Dalam hati, Bravo sangat bangga kepada Ederson.

CINTA SEJATI


Konon katanya “cinta sejati” dipunyai oleh masing-masing orang? Cinta yang menurutnya amat indah dan bisa bikin orang yang mengalaminya berubah menjadi bahagia? Mitos C inta sejati yang berulang-ulang membisik di hati ini.
Aku tersenyum saat mengamati benda yang berada pada bingkai iyu. Bukanlah satu buah foto atau lukisan, cuman sebuah  kertas lusuh. Kertas catatan B.INDONESIA yang dulunya ak robek dari buku punyanya 3 tahun yang dulu di waktu ada acara perpisahan SMP, dia tidak tahu  aku sudah merobek bukunya. Aku hanya salah satu fansnya yang berada di sekolah.
Namun, bisa dibilang, aku tak begitu menampakan diri kalau aku benar-benar suka padanya. Aku Cuma menyukai melalui diam. Justru, robekan catatan B.INDONESIA tersebut aku pungut dengan diam-diam agarkenangan ku bersamanya tetap ada ketika saat disekolah. Aku lagi-lagi tersenyum ketika menata robekan kertas itu. Dan aku benar-benar percaya jika pada suatu hari nanti kita pasti berjumpa kembali. Kemudian kukeluarkan kertas itu dari bingkainya. Ku peluk dan ku genggam secara mesra. Sungguh gila, konyol, memang. Aku coba menaruhkan kembali kertas itu kebingkainya.
Dan.....
Syuttttt.....
Kertas itu  keluar dari jendela dan terbang dihembuskan oleh angin dan jatuh di perkarangan. Dengan bersegera aku keluar dari rumah dan mengejar kertas itu. Kertas itu satu-satunya barang yang bisa bikin aku mengingatnya. Saat aku hendak memungut kembali kertas tersebut di injak oleh seseorang. Namun, begitu aku kesal ketika aku tahu kertas itu di injak seseorang.
“ohh..muali tadi kamu mengejar kertas ini ya?” ujar orang tersebut.
Nyesss.....
Loh, di...diakan? Dia yang punya kertas yang aku robek itu?Nadya. Cewe cantik dan cerdas. Bagaimana dia bisa disini .
“Maaf aku sudah merobek buku kamu diam-diam.”
“Tidak apa-apa ko aldi, aku sering juga mengambil fotomu diam-diam waktu itu.”
“Lebih baik kita nostalgia di taman saja.”
“Aku dulu sangat suka padamu Nadya,kamu sangat cuek aku sangat menyukaimu.”
“Jujur saja aku masih bingung ingin berkata apa.”
“Kamu percaya tidak dengan true love? Awalnya aku benar-benar ragu namun aku percaya akan true love.”
“Will you be my true love, Nadya?” ujar aldi.
Tidak sadar aku langsung saja mengucapkan “yes will” percaya atau  tidak, itulah faktanya.cinta sejati terkadang bisa datang lewat sendirinya.Sejauh apapun, cinta sejati bisa menemukan jalannya lagi dan lagi supaya kita jumpai.

UNTAIAN TALI SURGA

 Aku hanya bisa bersamanya hanya delapan tahun. Bersama kenangan yang samar-samar aku ingat, Mama yang hanya menemani hidupku hingga kelas tiga SD. Menemani dengan semua penyakit mematikannya itu. Tapi Ibu mengajarkan kami semua sesuatu yang tidak pernah terbayarkan oleh apapun kecuali oleh cahaya surga.
          “Bu, ada tamu.” Kata kakak perempuanku. Ibu menghentikan mencuci piringnya. Aku yang sedang bermain seketika langsung berhenti, mengikuti langkah Ibu ke ruang tamu. Kakakku berusaha menarik tanganku agar aku tidak ikut, tapi aku menggit tangannya dan terbebas dari semua cengkramannya.
          Seorang Wanita memakai pakaian rapi datang kerumahku. Wajahnya tampak was-was saat melihat ibuku keluar dari rumah, tapi Ibu tersenyum dan mempersilahkannya masuk. Kakakku yang mengantarkan minuman sudah mengomel dengan isyarat menyuruhku untuk pergi tapi aku tetap duduk disamping Ibu. Dengan lembut Ibu mengajak orang tersebut mengobrol sampai seorang itu membuka inti dari kedatngannya kesini.
          “Begini bu… sebenarnya… sebenarnya… saya mau..” dia menatapku, menatap Ibu. Dengan sabar Ibu menunggu jawabannya
          “Saya mau… minjem uang bu” kata terakhir itulah yang membuatnya langsung tertunduk lemas. Senyum Ibu langsung hilang dan aku hanya terdiam.
          Gejolak ketakutan mulai terasa dari seorang itu. Ini bukan hal aneh. Pasti selalu ada saja yang meminjam uang kepada Ibu.
          “Mau minjam uang berapa Bu?” Seseorang itu menyebutkan nominalnya angkanya. Kakak perempuanku mengikuti Ibuku sambil menyiapkan kemarahannya. Tidak henti-hentinya Ibuku berbuat baik, kakakku marah, tetapi Ibu tidak memperdulikannya
          “Makasih ya Bu, tanpa Ibu, anak saya bisa dibawa kerumah sakit. Ibuku membalasnya dengan senyuman. Orang itu pergi dan meniggalkan kesunyian. Senyuman Ibu menghilang ketika melihat wajah marah dari kakakku.
          “Ibu kan tahu, orang itu enggak suka sama Ibu, dating kalo cuman ada maunya aja. Bentak kakak sembari menghapus air matanya.
          Tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan Ibu tidak pernah mengatakan apa maksudnya selalu memberikan kebaikan kepada semua orang. Sampai akhirnya Ibu pergi dengan tenang karena penyakitnya, walau Ibu sudah tidak ada tapi kebaikannya selalu teruntai sampai kapanpun

TEORI KOMPUTASI DAN IMPLEMENTASI KOMPUTASI DALAM BIDANG FISIKA

A. Teori komputasi adalah cabang ilmu komputer dan matematika yang membahas apakah dan bagaimanakah suatu masalah dapat dipecahkan pada mode...