Sore itu, angin seakan menyampaikan
salam perpisahannya padaku. Langit seakan menangis menitikan rintikan air yang
membasahi pijakanku. Tempat yang biasa aku diami untuk mencari bahkan
mendapatkan inspirasi. Diatas bukit yang tak terlalu tinggi membuat saung ini
terlihat jauh lebih indah. Saat aku bingung dan kehilangan arah, tempat ini
seakan membuatku tak memiliki pilihan lain. Sungguh berat hati ini untuk pergi
dan meninggalkannya.
Tiba-tiba aku melihat bayang yang
seperti ingin menghampiriku. Sosok wanita dengan langkah kaki yang sangat ku
kenal. Dia sudah sangat tahu kemana dia akan pergi untuk mencari ku saat aku
tak di rumah.
“Zahra, kita harus berkemas untuk meninggalkan desa
ini. Ayo kita pulang?”
Aku hanya dapat menganggukan kepalaku tanpa sepatah
katapun. Dengan berat hati, aku pergu meninggalkan tempat yang sangat istimewa
bagiku.
Ya,
dia adalah ibuku yang sangat sibuk bekerja tanpa memerhatikan diriku. Karena
pekerjaannyalah kita harus pindah kekota. Ibuku tidak hentinya mencari uang.
Dengan rumah yang sedemikian mewah, apalah arti tanpa kasih sayang di dalamnya.
Dia pergi sebelum surya meraba bumi, dan pulang setelah senja lelap tenggelam.
Karena pekerjaanya pula aku harus kehilangan sosok ayah yang sangat ku sayangi.
Mereka jauh berbeda. Ayah memilih berpisah karena ibu tidak mengutamakannya dan
melayaninya dengan baik. Yang dia utamakan hanyalah uang yang dapat membawa
kesenangan baginya. Sesungguhnya ayah sanyat mencintai ibuku dulu.
Sesampainya
aku di kota, suasananya sangat jauh berbeda. Suara merdu kicauan burung kini
menjadi suara deruan mesin pemakan isi perut bumi, sejuknya udara menjadi
kumparan polusi yang merusak tubuh. Setelah aku masuk kamarku, langsung aku
baringkan tubuhku di kamar yang baru ku kenal. Seharian penuh ku habiskan
waktuku disana. Aku hanya bisa mengingat-ingat kenanganku di desa. Yang entah
mungkin atau tidak ku dapetkan di sini.
Pagi
ini surya naik dengan malu malu. Aku siap berangkat kesekolah yang telah di
daftarkan ibuku. Seperti biasa aku hanya sarapan sendiri di rumah. Walau
sarapan selalu siap di pagi hari, aku jarang melihat sosok ibu yang
membuatkanku sarapan.
“tiiiiiintiiiiiin….”
Tiba-tiba suara motor terdengar di depan rumahku.
Aku segera menghabiskan makananku dan bergegas berangkat sekolah.
“apa benar, dengan Zahra?” dia berkata dengan
senyumnya.
“ya benar, tunggu sebentar ya” sambil berjalan ke
pintu untuk menguncinya.
Bel
sekolahpun berbunyi. Seperti anak baru pada umumnya, aku harus berdiri di depan
dengan puluhan mata yang menatapku. Dengan sedikit gugup aku memperkenalkan
diriku. Tidak seperti bayangku yang buruk tentang sekolah baru. Aku sangat di
terima disana. Akupun mengikuti kegiatan belajar seperti siswa pada umumnya.
Saat istirahat sekolah pertamaku, tidak sedikit anak yang mendekat dan
berkenalan denganku. Ya, paling tidak ini bisa mengobati rasa sepiku selama
ini. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera pulang untuk beristirahat.
Namun, aku berbelok ke toilet karena tak sangup lagi menahan ingin buang air.
Barulah setelah itu aku pulang ke rumah.
Sudah
tak heran rumah ku sepi. Setiap malam aku membeli makanan di luar untuk mengisi
perutku. Mengerjakan tugas, merapikan kamar dan rumah, makan, menyiapkan
pakaian, aadalah kegiatan sehari-hariku. Terkadang aku terbangun dimalam hari
karena suara ibu yang baru pulang , tapi aku tidak begitu bahagia ketika dia
pulang. Mungkin karena aku terlalu jauhh padanya.
“kriiiiiii…..ng”
Alarem tua yang ku bawa dari desa membangunkanku.
Alarem itu adalah pemberian ayahku saat usiaku 7 tahun. Sampai saat ini aku
merawatnya dengan sangat baik. Seperti pagi-pagi sebelumnya, sarapan telah
tertata rapih di meja. Dan lagi-lagi aku tidak melihat wanita yang telah
membuatkannya. Setelah semua habis ku lahap, namun aku tak mendengar suara
orang yang menjemputku. Saat ku coba melihatnya di depan rumah, rupanya dia
telah siap menunggu.akupun segera menutup dan mengunci pintu rumah.
Lagi
lagi bel masuk berbunyi. Kali ini aku agak telat, maka dari itu aku berlari ke
kelas agar aku sampai sebelum guru masuk kedalam kelas. Namun langkahku berhenti
saat ada yang menyebut namaku. Seorang laki-laki yang tengah menyodorkan sebuah
buku kearah ku.
“ini, aku menemukannya di lorong kamarmandi” kata
laki-laki itu.
Rupanya itu buku miliku yang terjatuh sebelum pulang
ke rumah saat itu. Tanpa mengucapkan terimakasih, aku mengambilnya dan lekas
berlari ke kelas. Ahh, senyumnya begitu manis dengan bibir tipisnya, matanya
pun indah bagai rembulan. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.
Istirahat
ini, aku coba mencarinya. Hampir seluruh daerah sekolah aku datangi, namun aku
tak kunjung menjumpainya. Ternyata dia ada di kantin, sedang memesan minuman.
“hey, emm… terimakasih atas bukunya, aku mencarinya
kemana-mana. Dan maaf aku langsung meninggalkanmu.” Kataku.
Dia hanya mengangguk sembari menyodarkan salah satu
minuman nya yang dia pegang. Dia duduk sekan menyuruhku duduk tanpa berkata
apapun.
“ngomong-ngomong, siapa namamu?” aku langsung
bertanya memotong kekosongan.
“Rian” singkat dia menjawabnya.
Kamipun saling mengobrol bersama sembari
menghabiskan minumannya. Hingga taksadar bel masuk telah berbunyi.
Entah
kenapa ojek yang ku pesan begitu lama. Sampai saatnya tiba sebuah motor dan
berhenti didepanku. Rupanya rian yang ada di atas motor itu.
“Zahra belum dijemput?” setelah melepas helemnya.
“belum, padahal sudah lama nunggu.” Sambil menengok
jam di tanganku.
“aku bisa mengantarmu pulang, aku sedang tidak sibuk
kok.”
Tanpa basa basi aku ikut dengannya dan mengantarku
pulang. Sesampainya dirumah, aku tak
henti membayangkannya. Orang yang telah menyelamatkan diriku. Aku belum pernah
merasakan ini sebelumnya.
Hari
ketigaku menunggu. Belum ku menyentuh sarapanku, lagi-lagi aku tak melihatnya
di rumah. Kemarin Rian bilang dia akan menjemputku. Tapi kenapa dia belum tiba.
“tiin” kelakson motor berbunyi di depan rumahku.
Rupanya ojek yang biasa di pesan ibu untuk ku. Aku
kira Rian yang akan mengantarku kesekolah hari ini. Setibanya di sana, Entah
kenapa koridor sekolah sepi tidak seperti biasanya. Mungkin aku terlalu pagi
untuk berangkat. Aku melihat Rian dan seorang laki-laki yang mungkin adalah
ayahnya.Tapi kenapa mereka ada di ruang kepala sekolah. Namun aku seperti kenal
dengan orang yang duduk di samping Rian. Tiba-tiba kepala sekolah membuka pintu
dan memanggilku.
Setelah lama bercerita,
ternyata Rian adalah kakak ku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Aku senang
dapat bertemu ayah lagi, disisi lain aku begitu kecewa ketika tau orang yang
aku sayangi adalah saudaraku. Dan tak lama ayah dan ibu kembali ke satu rumah.
Ibu sekarang berubah dan lebih perduli kepada ayah. Dan kamipun menjadi
keluarga yang bahagia.
No comments:
Post a Comment