Friday, January 3, 2020

Buku Penjumpa


Sore itu, angin seakan menyampaikan salam perpisahannya padaku. Langit seakan menangis menitikan rintikan air yang membasahi pijakanku. Tempat yang biasa aku diami untuk mencari bahkan mendapatkan inspirasi. Diatas bukit yang tak terlalu tinggi membuat saung ini terlihat jauh lebih indah. Saat aku bingung dan kehilangan arah, tempat ini seakan membuatku tak memiliki pilihan lain. Sungguh berat hati ini untuk pergi dan meninggalkannya.
Tiba-tiba aku melihat bayang yang seperti ingin menghampiriku. Sosok wanita dengan langkah kaki yang sangat ku kenal. Dia sudah sangat tahu kemana dia akan pergi untuk mencari ku saat aku tak di rumah.
“Zahra, kita harus berkemas untuk meninggalkan desa ini. Ayo kita pulang?”
Aku hanya dapat menganggukan kepalaku tanpa sepatah katapun. Dengan berat hati, aku pergu meninggalkan tempat yang sangat istimewa bagiku.
          Ya, dia adalah ibuku yang sangat sibuk bekerja tanpa memerhatikan diriku. Karena pekerjaannyalah kita harus pindah kekota. Ibuku tidak hentinya mencari uang. Dengan rumah yang sedemikian mewah, apalah arti tanpa kasih sayang di dalamnya. Dia pergi sebelum surya meraba bumi, dan pulang setelah senja lelap tenggelam. Karena pekerjaanya pula aku harus kehilangan sosok ayah yang sangat ku sayangi. Mereka jauh berbeda. Ayah memilih berpisah karena ibu tidak mengutamakannya dan melayaninya dengan baik. Yang dia utamakan hanyalah uang yang dapat membawa kesenangan baginya. Sesungguhnya ayah sanyat mencintai ibuku dulu.
          Sesampainya aku di kota, suasananya sangat jauh berbeda. Suara merdu kicauan burung kini menjadi suara deruan mesin pemakan isi perut bumi, sejuknya udara menjadi kumparan polusi yang merusak tubuh. Setelah aku masuk kamarku, langsung aku baringkan tubuhku di kamar yang baru ku kenal. Seharian penuh ku habiskan waktuku disana. Aku hanya bisa mengingat-ingat kenanganku di desa. Yang entah mungkin atau tidak ku dapetkan di sini.
          Pagi ini surya naik dengan malu malu. Aku siap berangkat kesekolah yang telah di daftarkan ibuku. Seperti biasa aku hanya sarapan sendiri di rumah. Walau sarapan selalu siap di pagi hari, aku jarang melihat sosok ibu yang membuatkanku sarapan.
“tiiiiiintiiiiiin….”
Tiba-tiba suara motor terdengar di depan rumahku. Aku segera menghabiskan makananku dan bergegas berangkat sekolah.
“apa benar, dengan Zahra?” dia berkata dengan senyumnya.
“ya benar, tunggu sebentar ya” sambil berjalan ke pintu untuk menguncinya.
          Bel sekolahpun berbunyi. Seperti anak baru pada umumnya, aku harus berdiri di depan dengan puluhan mata yang menatapku. Dengan sedikit gugup aku memperkenalkan diriku. Tidak seperti bayangku yang buruk tentang sekolah baru. Aku sangat di terima disana. Akupun mengikuti kegiatan belajar seperti siswa pada umumnya. Saat istirahat sekolah pertamaku, tidak sedikit anak yang mendekat dan berkenalan denganku. Ya, paling tidak ini bisa mengobati rasa sepiku selama ini. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera pulang untuk beristirahat. Namun, aku berbelok ke toilet karena tak sangup lagi menahan ingin buang air. Barulah setelah itu aku pulang ke rumah.
          Sudah tak heran rumah ku sepi. Setiap malam aku membeli makanan di luar untuk mengisi perutku. Mengerjakan tugas, merapikan kamar dan rumah, makan, menyiapkan pakaian, aadalah kegiatan sehari-hariku. Terkadang aku terbangun dimalam hari karena suara ibu yang baru pulang , tapi aku tidak begitu bahagia ketika dia pulang. Mungkin karena aku terlalu jauhh padanya.
“kriiiiiii…..ng”
Alarem tua yang ku bawa dari desa membangunkanku. Alarem itu adalah pemberian ayahku saat usiaku 7 tahun. Sampai saat ini aku merawatnya dengan sangat baik. Seperti pagi-pagi sebelumnya, sarapan telah tertata rapih di meja. Dan lagi-lagi aku tidak melihat wanita yang telah membuatkannya. Setelah semua habis ku lahap, namun aku tak mendengar suara orang yang menjemputku. Saat ku coba melihatnya di depan rumah, rupanya dia telah siap menunggu.akupun segera menutup dan mengunci pintu rumah.
          Lagi lagi bel masuk berbunyi. Kali ini aku agak telat, maka dari itu aku berlari ke kelas agar aku sampai sebelum guru masuk kedalam kelas. Namun langkahku berhenti saat ada yang menyebut namaku. Seorang laki-laki yang tengah menyodorkan sebuah buku kearah ku.
“ini, aku menemukannya di lorong kamarmandi” kata laki-laki itu.
Rupanya itu buku miliku yang terjatuh sebelum pulang ke rumah saat itu. Tanpa mengucapkan terimakasih, aku mengambilnya dan lekas berlari ke kelas. Ahh, senyumnya begitu manis dengan bibir tipisnya, matanya pun indah bagai rembulan. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.
          Istirahat ini, aku coba mencarinya. Hampir seluruh daerah sekolah aku datangi, namun aku tak kunjung menjumpainya. Ternyata dia ada di kantin, sedang memesan minuman.
“hey, emm… terimakasih atas bukunya, aku mencarinya kemana-mana. Dan maaf aku langsung meninggalkanmu.” Kataku.
Dia hanya mengangguk sembari menyodarkan salah satu minuman nya yang dia pegang. Dia duduk sekan menyuruhku duduk tanpa berkata apapun.
 “ngomong-ngomong, siapa namamu?” aku langsung bertanya memotong kekosongan.
“Rian” singkat dia menjawabnya.
Kamipun saling mengobrol bersama sembari menghabiskan minumannya. Hingga taksadar bel masuk telah berbunyi.
          Entah kenapa ojek yang ku pesan begitu lama. Sampai saatnya tiba sebuah motor dan berhenti didepanku. Rupanya rian yang ada di atas motor itu.
“Zahra belum dijemput?” setelah melepas helemnya.
“belum, padahal sudah lama nunggu.” Sambil menengok jam di tanganku.
“aku bisa mengantarmu pulang, aku sedang tidak sibuk kok.”
Tanpa basa basi aku ikut dengannya dan mengantarku pulang.  Sesampainya dirumah, aku tak henti membayangkannya. Orang yang telah menyelamatkan diriku. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.
          Hari ketigaku menunggu. Belum ku menyentuh sarapanku, lagi-lagi aku tak melihatnya di rumah. Kemarin Rian bilang dia akan menjemputku. Tapi kenapa dia belum tiba.
“tiin” kelakson motor berbunyi di depan rumahku.
Rupanya ojek yang biasa di pesan ibu untuk ku. Aku kira Rian yang akan mengantarku kesekolah hari ini. Setibanya di sana, Entah kenapa koridor sekolah sepi tidak seperti biasanya. Mungkin aku terlalu pagi untuk berangkat. Aku melihat Rian dan seorang laki-laki yang mungkin adalah ayahnya.Tapi kenapa mereka ada di ruang kepala sekolah. Namun aku seperti kenal dengan orang yang duduk di samping Rian. Tiba-tiba kepala sekolah membuka pintu dan memanggilku.
                Setelah lama bercerita, ternyata Rian adalah kakak ku. Aku sangat terkejut mendengarnya. Aku senang dapat bertemu ayah lagi, disisi lain aku begitu kecewa ketika tau orang yang aku sayangi adalah saudaraku. Dan tak lama ayah dan ibu kembali ke satu rumah. Ibu sekarang berubah dan lebih perduli kepada ayah. Dan kamipun menjadi keluarga yang bahagia.

No comments:

Post a Comment

TEORI KOMPUTASI DAN IMPLEMENTASI KOMPUTASI DALAM BIDANG FISIKA

A. Teori komputasi adalah cabang ilmu komputer dan matematika yang membahas apakah dan bagaimanakah suatu masalah dapat dipecahkan pada mode...