Betapa menyenangkan
menjadi orang kaya. Hidup serba berkecukupan. Apapun yang diinginkan akan
terpenuhi. Karena semua sudah tersedia. Seperti halnya Bagus. Seorang anak
orang kaya yang menjadi populer karena kekayaannya, berangkat dan pulang
diantar oleh supir abadi dan mobil yang mewah.
meskipun bergemilang
harta, Bagus tidaklah menyombongkan diri. Tidak kalah dengan Bagus ,orang tua
Bagus juga merupakan orang yang baik dan ramah, tidak berpatokan pada hartanya
dalam bergaul dan tidak membeda-bedakan orang di sekitarnya. Teman-teman Bagus
sangat suka dan betah berlama-lama dirumah Bagus karena mereka selalu disambut
ramah dan diperlakukan seperti keluarga sendiri oleh keluarga Bagus.
Bagus memiliki
seorang sahabat yang sangat setia menemaninya dalam menghadapi kerasnya
kehidupan. Tidak jauh dari rumahnya Shadam sahabat Bagus tinggal di kampung
dekat rumah Bagus, hanya di pisahkan oleh RT saja. Tetapi sudah hampir dua
minggu Shadam tidak bermain lagi di rumah nya Bagus.
“Hmm Shadam kemana ya mah, biasanya dia setiap hampir setiap hari mengunjungi
rumah kita” kata Bagus
“Mungkin Shadam sedang sakit!”Kata mamah
“Iya juga mah, aku akan mengunjungi Shadam nanti sore” Jawab Bagus dengan penuh
semangat.
Sudah hampir lima
kali Bagus mengetuk rumahnya si Shadam. Karena menunggu lama ia bertanya kepada
tetangganya Shadam. Ternyata sudah dua minggu.Shadam ikut orang tuanya pergi ke
desa. Karena ayahnya habis kena PHK. Akhirnya keluarga Shadam memutuskan untuk
pergi kembali ke desa dan menjadi petani.
“Kasihan sekali keluarga Shadam” Kata Bagus dalam hati
dirumah nya Bagus nampak melamun sambil memikirkan nasib sahabat setianya
tersebut.
“Ada apaan gus? Kok tampak lemas sekali” Kata ayah
“Si Shadam pak”. Jawab Bagus
“memangnya ada apa dengan Shadam sampai-sampai membuat kamu lesu begitu?”tanya
ayah.
“Sekarang Shadam sudah pindah rumah pak. Kata tetangga nya di PHK dan
keluarganya memilih untuk menjadi petani”.
“Kalau ayah sih tidak terlalu percaya coba tanya deh sama pak RT atau ke tetangga
lain”. Kata ayah. “Lalu apa rencana mu?”Lanjut ayah
“Aku berharap ayah bisa menolong Shadam” jawab Bagus
“Maksudmu?” ayah bingung
“Aku pengen Shadam bisa disini lagi” Bagus memohon kepada ayah.
“Baik kalau itu bisa membuat kamu senang ,tapi kamu harus bisa mencari alamat
si Shadam”.Kata ayah
Berkat bantuan
pemilik kontrakan bekas rumah Shadam akhirnya tiga hari kemudian Bagus berhasil
mendapatkan alamat rumah Shadam yang ada di desa.
Ia merasa sangat senang. Kemudian ayah bersama
dengan bagus pergi kerumah Shadam yang berada di desa. Lokasi rumahnya masih
masuk kedalam desa lagi. Bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar dua kilometer.
Sesampainya dirumah kami disambut orang tua Shadam dan Shadam sendiri. Betapa
gembiranya hati Shadam ketika bertemu dengan sabahat dekatnya. Mereka
berpelukan cukup lama untuk melepas rindu mereka berdua. Pada awalnya Shadam
sangat kaget dengan kedatangan Bagus secara tiba tiba.
“Maaf ya gus, aku tak sempat memberi kabar ke kamu kalo aku ingin pindah”. Kata
Shadam
“ah gak papa, yang penting aku sudah ketemu kamu dan merasa senang”. Jawab
Bagus
Setelah berbincang cukup lama, ayah menjelaskan tujuannya pergi mengunjungi
rumah si Shadam yaitu untuk mengajak Shadam pergi ke Surabaya. Ternyata orang
tua Shadam tidak keberatan, mereka menyerahkan segala keputusan kepada Shadam
sendiri.
“Begini dam kedatangan kami kemari, untuk mengajak kamu ikut kami ke surabaya.
Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana dam apakah
kamu ingin menerima tawaran kami?” Tanya ayah
“soal sekolahmu” lanjut ayah “kamu tidak usah khawatir. Seluruh biaya
pendidikanmu biar keluarga kami yang menanggung”.kata ayah
“Baiklah kalau memang bapak dan Bagus menghendaki saya ikut, saya mau pak. Saya
juga mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan bapak yang mau membantu saya
dan keluarga saya” jawab Shadam
Kemudian Bagus memeluk shadam.
Ia menangis terharu karena kebahagiaan. Kini Shadam tinggal di rumah Bagus.
Sementara orang tuanya tetap tinggal di desa. Selain untik mengerjakan sawah,
mereka juga merawat nenek Shadam yang sudah semakin tua.
No comments:
Post a Comment