Aku hanya bisa bersamanya hanya
delapan tahun. Bersama kenangan yang samar-samar aku ingat, Mama yang hanya
menemani hidupku hingga kelas tiga SD. Menemani dengan semua penyakit
mematikannya itu. Tapi Ibu mengajarkan kami semua sesuatu yang tidak pernah
terbayarkan oleh apapun kecuali oleh cahaya surga.
“Bu, ada tamu.” Kata kakak
perempuanku. Ibu menghentikan mencuci piringnya. Aku yang sedang bermain
seketika langsung berhenti, mengikuti langkah Ibu ke ruang tamu. Kakakku
berusaha menarik tanganku agar aku tidak ikut, tapi aku menggit tangannya dan
terbebas dari semua cengkramannya.
Seorang Wanita memakai pakaian rapi
datang kerumahku. Wajahnya tampak was-was saat melihat ibuku keluar dari rumah,
tapi Ibu tersenyum dan mempersilahkannya masuk. Kakakku yang mengantarkan
minuman sudah mengomel dengan isyarat menyuruhku untuk pergi tapi aku tetap
duduk disamping Ibu. Dengan lembut Ibu mengajak orang tersebut mengobrol sampai
seorang itu membuka inti dari kedatngannya kesini.
“Begini bu… sebenarnya… sebenarnya…
saya mau..” dia menatapku, menatap Ibu. Dengan sabar Ibu menunggu jawabannya
“Saya mau… minjem uang bu” kata
terakhir itulah yang membuatnya langsung tertunduk lemas. Senyum Ibu langsung
hilang dan aku hanya terdiam.
Gejolak ketakutan mulai terasa dari
seorang itu. Ini bukan hal aneh. Pasti selalu ada saja yang meminjam uang
kepada Ibu.
“Mau minjam uang berapa Bu?” Seseorang
itu menyebutkan nominalnya angkanya. Kakak perempuanku mengikuti Ibuku sambil
menyiapkan kemarahannya. Tidak henti-hentinya Ibuku berbuat baik, kakakku
marah, tetapi Ibu tidak memperdulikannya
“Makasih ya Bu, tanpa Ibu, anak saya
bisa dibawa kerumah sakit. Ibuku membalasnya dengan senyuman. Orang itu pergi
dan meniggalkan kesunyian. Senyuman Ibu menghilang ketika melihat wajah marah
dari kakakku.
“Ibu kan tahu, orang itu enggak suka
sama Ibu, dating kalo cuman ada maunya aja. Bentak kakak sembari menghapus air
matanya.
Tiba-tiba
suasana menjadi sunyi dan Ibu tidak pernah mengatakan apa maksudnya selalu
memberikan kebaikan kepada semua orang. Sampai akhirnya Ibu pergi dengan tenang
karena penyakitnya, walau Ibu sudah tidak ada tapi kebaikannya selalu teruntai
sampai kapanpun
No comments:
Post a Comment