Ederson melangkahi sekolah, dia berjalan menunduk
penuh rasa kecewa. Kakaknya, Bravo, bingung melihat Ederson seperti itu
kemudian iya bertanya kepada Ederson, “ kenapa, Son?” Mendengar suara kakaknya,
mata Ederson langsung memandang kakaknya. Dia pun berkata “Aku bosan, Kak....”
Bravo semakin bingung.
“Bosan? Bosan kenapa? Apa kamu ngga suka lagi ergi
ke sekolah? Atau, guru-guru di sekolah ngga ramah ya? Nanti bilang mama aja...”
Bravo memberondong pertanyaan.
“Bukan kak Bravo...” Ederson menjawab sambil
memandang kelereng yang ada di depannya. “Terus apa dong, Son?” Bravo semakin
bingung mendengar jawaban Ederson”. “Aku bosan, kak... Bosan tinggal di bumi
jawab Ederson sambil mengangkat wajahnya yang di hiasi dengan kekecewaan
mendalam.
“Iiih... kamu stress ya? Kita kan engga bisa tinggal
di laut tanpa oksigen?” Bravo memperlamban langkah mengimbangi langkah
Ederson.”Bukan di laut ko, kak...” Ederson menatap langit sambil berfikir.
“Terus dimana? Di dalam tanah? Di planet Mars? Atau di dasar laut? Kalau ngga
apa kita tinggal di langit aja?” Bravo yang tidak mengerti maksud Ederson terus
memberondong pertanyaan kepada adiknya tersebut.
“Iya, kak! Benar! Kita kan bisa tinggal di langit!”
Wajah Edrson yang semula terlihat kecewa berubah menjadi ceria lebih dari
biasa. “Hah?” Bravo hanya melongo. Dia masih sibuk memikirkan maksud Ederson
yang memang susah untuk ditebak.”Iya, kak... Makasih ya, Kak, sudah ngasih ide
secermelang itu buat aku.”
“Kak, siapa aja sih yang tinggal di langit?” tanya
Ederson menarik seluruh perhatian Bravo. “Emm, yang tinggal di langit? Kamu
serius?” Bravo terdengar kaget lalu mencurahkan seluruh perhatiannya sambil
menatap mata Ederson dalam-dalam, di mata Ederson, bravo menemukan keseriusan.
“Ya iyalah, kak, aku serius. Buruan, kak, jawab siapa yang tinggal di langit?”
balas Ederson ringan.
“Menurut kak Bravo sih, awan. Karena awan yang
selalu ada di malam dan siang hari. Kedua, Bintang, karena di langit kita bisa
melihat rasi bintang. Ketiga, Matahari dan Bulan, karena mereka yang menerangi
malam dan siang kita. Terakhir, seluruh partikel-partikel yang ada di langit,”
jawab Bravo panjang lebar. Ederson mendengarkan dengan seksama dan menghapal
kata-kata Bravo, sang kakak yang sangat bijaksana di mata Ederson.
“Emangnya, kenapa sih kamu engga senang tingal di
Bumi?” Bravo mulai mencoba mengorek ketertarikan adiknya terhadap langit.
Ederson tersenyum kecut,”Sebenarnya aku lagi sebal... soalnya Bumi sekarang
lagi kena global warming. Tapi teman-teman aku engga ada yang peduli.
Orang malah berlomba-lomba pasang AC, karena setiap siang terasa semakin
panas.”Jawab Ederson panjang lebar. Sekali lagi dia menunduk, rasa kecewa itu
kembali terlihat.
“Yaampun, Ederson... kakak engga nyangka, kamu
peduli banget sama alam. Padahal kamu keliatan cuek, hehe,” sahut Bravo sambil
mengacak-ngacak rambut Ederson. Dalam hati, Bravo sangat bangga kepada Ederson.
No comments:
Post a Comment