Di
sebuah sekolah, matahari belum tampak.Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam
pun masih diselumuti embun pagi.Seorang anak duduk di dalam ruangan yang
sepi.siapakah dia? Ia adalah seorang murid, yang bernama Angga
Ditariknya
nafas dalam dalam baru di hembuskan perlahan.Kemudian secara perlahan kakinya
melangkah kesebuah ruangan yang penuh dengan seragam putih abu abu.Ya, hari ini
adalah hari pertama ia pindah sekolah SMA barunya secara resmi.
Sambil
menatap kedepan. Rizki pun melangkah.“Baiklah anak anak.Mohon perhatiannya
sebentar.Karena ini hari pertama masuk sekolah. Kalian harus memperkenalkan
diri masing masing,” kata sang inu guru. Ketika giliranku, akupun
memperkenalkan diri selayaknya orang yang baru berkenalan.
“Perkenalkan,
Namaku Angga Prawijaya. Rumahku di Ciangsana, Bogor. Panggil saja saya apabila
ada perlu.Senang bisa bertemu kalian,” kata Angga sembari menatap
kedepan.Karena dengan jelas, mata Angga terhenti pada cewek yang duduk di pojok
ruangan.Cewek dengan potongan rambut yang panjang sedang asik dengan buku yang
dibacanya.Tak menatap sama sekali. Entah ia keasikan baca buku, atau memang
kehadirannya tak menarik perhatian.Ketika semua selesai memperkenalkan diri dan
duduk dibangku masing masing.
Kelas
yang tadinya hening, kini mulai terdengar bisikan.
“Asik,
temen baru nih,” kata cewek yang duduk didepan hadapan Angga.
“Keren
nih, udah punya pacar belum?”
Pertanyaan
dari salah satu siswi dikelas disambut oleh suara riuh oleh seisi kelas. Angga
hanya tersenyum kaku.Merasa sedikit malu dan takjub.”Sudah sudah, pekenalan
selanjutnya nanti saja.Sekarang mari kita lanjutkan pelajaran kita, dan kamu
boleh duduk di…,” Guru tersebut mencari tempat kosong di sekelilingnya,
“Disana,” tunjuknya kerasa bangku kosong diujung kelas.
Begitu
duduk di bangkunya, angga diam diam menoleh tepat kecewek disampingnya.Cewek
yang berhasil menarik perhatianya.Angga heran karena dia membaca buku
matematika, padahal sedang jam pelajaran biologi.
Begitu
bel ganti pelajaran terdengar, Angga menutup bukunya.Ketika ia ingin berkenalan
dengan cewek disampingnya entah kapan dua buah earphone terpasang di
telinganya. Membuat Angga terpaksa bungkam.
“Jadi
nama lu Angga, kenalin gua Rizki.”
Kepala
angga langsung menatap kedepan. Kearah cowok yang duduk di depannya. “Eh, lu orangnya
pendiem ye?” ujar Rizki begitu bel istirahat pertama berbunyi.
“Ngga
juga kok. Kan ini hari pertama.Yakali gua langsung teriak gajelas, ntar gua di bilang
gila,” balas Angga yang di sambuttawa.
“Yaudah,
mumpung istirahat kekantin yuk. Sekalian nyari temen baru buat lu Ang,” ajak
Rizki sambil mengajaknya keluar.
“Yaudahlah,
berangkat,” ujarAngga sambil mengejar Rizki.
SebelumAngga
keluar kelas, ia memalingkan wajahnya dan melihat rekan sebangkunya yang terus
membaca buku. Entah dorongan dari mana, hanya saja Angga tertarik oleh rekan
sebangkunya itu.
“Eh, yang duduk disebelah gua itu namanya
siapa sih?,” ujarAngga.
“Oh
itu, namanya Yuni. Lu sukaya?,”ujar Rizki meledekAngga.
“Yakali
Riz, aneh aja tadi. Kan lagi pelajaran biologi, masa di abaca buku matematika,”
ujarAngga.
Istirahat
pun selesai, ketika pelajaran berlangsung.Angga mengajak kenalan dengan cewek
yang duduk disebelahnya.
“Hai,
boleh kenalan?,” ujarangga
Cewek
tersebut melepas earphonenya
“Apa
apa?Tadi lu bilang apa?,” ujar cewek yang duduk disebelah angga
“Boleh
Kenalan?,” ujar Angga
“Oh,
boleh kok,” ujar wanita itu
“Nama
Lu Siapa?RumahDimana? Panggilan Lu Siapa?,” ujar Angga bertanya
“Nama
guaYunita Sari ,rumah di Ciangsana, panggil sayang juga boleh kok,” ujar Yuni
sambil tertawa.
“Serius
Lu?,” ujar Angga sambil melotot.
“Bercanda
kok. Oh iya, nama lu siapa?,” ujar yuni
“Nama
guaAnggaWinata, panggil aja Angga.Loh rumah kita deketan dong, bisa dong sekali
kali berangkat bareng,” ujar angga sambil tertawa.
Setahun
mereka berteman, tanpa disadari Angga mempunyai rasa ke Yuni.Angga terus
memikirkan Yuni.Dan mulai bercerita ke
Rizki sahabatnya yang didapat waktu pertama kali pindahan sekolahnya.
“Eh
Riz, kok gua kalo deket Yuni malu malu gitu ya?,” ujar Angga ke Rizki.
“Lu
punya rasa kali ama dia,” ujar Rizki.
“Mungkin
sih, gua harus gimana dong?,” ujar Angga.
“Ya…
lu bilang lah samaYuni,” ujar Rizki.
“Gua
mana berani bilang kedia,” ujar Angga.
“Percaya
diri aja Ang,” ujar Rizki
Pada
malam itu juga Angga memberitahu isi hatinya ke Yuni wanita yang di sukainya itu
lewat akun social media.
“Yun…,”ujar Angga.
“Ada
apa Angga?,” ujar Yuni.
“Gini
Yun, selama satu tahun gua kenal lu, entah dari mana datangnya, gua suka sama
lu Yun…,” ujar Angga sambil bergemetar jari jarinya.
“Kalo
lu ada rasa sama gua terus bisa apa ang?,” ujar Yuni.
“Lu
mau ga jadi… pacar gua?,” ujarAngga.
“Sorry
Ang, gua belom bisa,” ujarYuni.
“Kenapa?
Salah kah gua?,” ujarAngga.
“Lu
gasalah kok, sorry yah,” ujarYuni.
“Makasih
deh Yun, gua minta maaf deh,” ujar Angga
“sorry
Ang…,” ujarYuni
Seandainya
sejak awal ia tau akan seperti ini, ia tidak akan jatuh cinta.
Merasa
marah pada dirinya, Angga bangkit berdiri. Ditinggalkan Handphonenya dalam
keadaan menyala, Angga keluar kamar. Sepertinya butuh udara segar.Angga pun
berfikir,”Apakah Ini Yang Dinamakan Jatuh Cinta?,”
No comments:
Post a Comment